Pertumbuhan ekonomi China yang selama puluhan tahun dikenal pesat kini menunjukkan tanda perlambatan. Kondisi ini berdampak langsung pada generasi muda yang menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal pekerjaan dan tekanan ekonomi sehari-hari.
Selama lebih dari empat dekade, China mengalami transformasi ekonomi besar dengan industrialisasi dan urbanisasi yang mendorong lahirnya kelas menengah. Namun, situasi saat ini berubah. Banyak anak muda menghadapi ketidakpastian masa depan, mulai dari sulitnya mendapatkan pekerjaan hingga menurunnya daya beli.
Sejumlah pengamat bahkan menggambarkan kondisi ini cukup serius. Ekonom menyebut generasi muda China kini cenderung kehilangan semangat karena peluang ekonomi yang semakin terbatas. Fenomena ini terjadi di berbagai kota besar seperti Beijing dan Chengdu, di mana tekanan hidup semakin terasa.
Selain itu, pasar tenaga kerja juga masih belum pulih sepenuhnya. Tingkat pengangguran usia muda tetap tinggi, mencerminkan adanya masalah struktural dalam ekonomi China, meski pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menstabilkan situasi.
Untuk mengatasi perlambatan konsumsi, pemerintah China menggelontorkan stimulus dalam bentuk subsidi. Program ini mencakup potongan harga untuk produk rumah tangga dan perangkat elektronik guna mendorong belanja masyarakat. Pada 2026, nilai anggaran untuk program tersebut mencapai puluhan miliar yuan.
Meski demikian, kebijakan tersebut dinilai belum cukup untuk mengatasi akar masalah, yaitu lemahnya kepercayaan masyarakat dan terbatasnya peluang kerja berkualitas. Kondisi ini membuat generasi muda berada dalam tekanan ekonomi yang berkelanjutan.

