Luhah.com // Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meneken perjanjian perdagangan yang menandai babak baru hubungan ekonomi Indonesia–Amerika Serikat. Kesepakatan ini langsung membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global.
Dalam proses negosiasi yang berlangsung intensif, Indonesia mengamankan 90 persen usulan strategis. Hasilnya, Amerika Serikat memberi tarif 0 persen kepada 1.819 produk Indonesia. Fasilitas ini mencakup komoditas unggulan seperti sawit, kopi, kakao, serta komponen elektronik yang menjadi tulang punggung ekspor nasional.
Kebijakan tarif nol persen ini meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Amerika Serikat. Pelaku usaha nasional kini memiliki ruang ekspansi yang lebih besar dan peluang peningkatan volume ekspor secara signifikan.
Perjanjian ini juga mendorong lonjakan ekspor tekstil hingga sepuluh kali lipat. Sektor tekstil yang bersifat padat karya berpotensi menyerap lebih banyak tenaga kerja dan menggerakkan industri manufaktur nasional.
Pemerintah Indonesia tetap menjaga kepentingan domestik melalui kesepakatan ini. Pemerintah memastikan perlindungan harga pangan dalam negeri agar stabilitas pasar terjaga dan kesejahteraan petani tetap aman.
Selain itu, kerja sama dagang ini membawa komitmen investasi strategis dengan nilai total USD 38,4 miliar. Investor mengarahkan dana tersebut ke sektor prioritas seperti industri manufaktur, energi, dan penguatan rantai pasok nasional.
Melalui perjanjian dagang Prabowo–Trump, Indonesia memperkuat hubungan bilateral sekaligus membangun fondasi ekonomi yang lebih kokoh. Akses pasar yang semakin terbuka dan arus investasi besar ini memberi peluang bagi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif dalam beberapa tahun ke depan. (***)

