TNI Tegaskan Pembubaran Aksi di Lhokseumawe Sesuai AturanFoto: Mayjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah (ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/bar)

Luhah.com // Aparat TNI membubarkan aksi massa di Lhokseumawe, Aceh, setelah menemukan peserta demonstrasi membawa bendera bulan bintang yang identik dengan simbol Gerakan Aceh Merdeka (GAM) serta sepucuk senjata api. TNI menilai tindakan itu penting untuk mencegah gangguan keamanan di tengah upaya pemulihan Aceh pascabencana.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI Mayjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah menjelaskan, prajurit TNI AD dari Korem 011/Lilawangsa langsung turun ke lokasi begitu menerima laporan terkait konvoi massa yang berkumpul dan berteriak sambil mengibarkan bendera bulan bintang.

“TNI menegaskan bahwa pelarangan pengibaran bendera bulan bintang didasarkan pada ketentuan hukum yang berlaku karena simbol tersebut diidentikkan dengan gerakan separatis yang bertentangan dengan kedaulatan NKRI,” kata Freddy, dilansir Antara, Sabtu (27/12/2025).

Freddy menyebutkan dasar pelarangan penggunaan bendera itu. Pemerintah mengatur hal tersebut dalam Pasal 106 dan 107 KUHP, Pasal 24 huruf a Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009, serta Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2007.

Menurut Freddy, Danrem 011/Lilawangsa Kolonel Inf Ali Imran langsung berkoordinasi dengan Polres Lhokseumawe lalu mendatangi titik kumpul massa bersama personel gabungan Korem 011/Lilawangsa dan Kodim 0103/Aceh Utara. Aparat mengimbau seluruh peserta aksi untuk menghentikan kegiatan dan menyerahkan bendera yang mereka bawa.

Namun, massa tetap menolak semua imbauan. Aparat kemudian membubarkan mereka secara terukur demi menghindari eskalasi situasi. Saat pemeriksaan berlangsung, aparat menemukan sepucuk pistol Colt M1911 lengkap dengan magazen dan amunisi, serta senjata tajam jenis rencong dari salah satu peserta. Petugas langsung mengamankan pelaku untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

Freddy mengatakan koordinator aksi mengakui bahwa peristiwa itu hanya kesalahpahaman dan ia menyepakati penyelesaian secara damai bersama aparat.

Ia juga menyoroti konten media sosial yang menyebarkan narasi menyesatkan soal tindakan TNI dalam kejadian tersebut. Freddy menekankan pentingnya verifikasi informasi karena hoaks dapat menyesatkan publik dan memperburuk situasi keamanan.

TNI, lanjut Freddy, terus mengedepankan strategi dialog, pendekatan humanis, serta kerja sama erat dengan pemerintah daerah dan aparat keamanan lainnya untuk menjaga stabilitas Aceh.

“TNI berkomitmen menjaga Aceh tetap aman, damai, dan berada dalam bingkai NKRI,” tegasnya. (***)

Shares