Semarang – Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia memberikan tenggat waktu 18 hari kepada pemerintah untuk mengambil langkah nyata dalam menguatkan nilai tukar rupiah.
Tuntutan tersebut disampaikan dalam aksi demonstrasi yang digelar di depan kantor perwakilan Bank Indonesia di Semarang, Jawa Tengah, pada hari ini.
Dalam aksinya, massa mahasiswa menyampaikan kritik terhadap kondisi nilai tukar rupiah yang dinilai terus mengalami tekanan terhadap mata uang asing. Mereka menilai pemerintah perlu segera mengambil kebijakan yang mampu menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat kepercayaan publik terhadap mata uang nasional.
Sebagai bentuk simbolik, para demonstran membakar uang mainan bergambar rupiah. Aksi tersebut dilakukan sebagai gambaran menurunnya nilai dan martabat rupiah di hadapan mata uang asing.
Koordinator aksi menyatakan mahasiswa memberikan waktu 18 hari kepada pemerintah untuk menunjukkan langkah konkret dalam memperkuat rupiah dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Menurutnya, pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga mampu memberikan dampak berkelanjutan terhadap penguatan fundamental ekonomi.
Mahasiswa juga menyampaikan peringatan bahwa apabila tuntutan tersebut tidak mendapat respons yang memadai dalam batas waktu yang telah ditentukan, mereka akan kembali menggelar aksi dengan skala yang lebih besar.
Aksi lanjutan itu direncanakan mengusung tajuk “Reformasi Jilid 2” sebagai bentuk tekanan kepada pemerintah agar segera merespons tuntutan yang telah disampaikan.
Hingga aksi berakhir, demonstrasi berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan dan massa secara bergantian menyampaikan orasi di depan kantor perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah. Belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai tuntutan yang disampaikan mahasiswa tersebut.

