Luhah.com // Banjir dan longsor menghantam tiga provinsi di Sumatra dan mengganggu layanan pendidikan secara besar-besaran. Data per 8 Desember 2025 menunjukkan gangguan terhadap 2.798 satuan pendidikan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dampak tersebut menyeret 22.419 tenaga kependidikan dan 238.305 murid dari berbagai jenjang ke dalam situasi darurat pendidikan.
Gangguan pendidikan menjalar ke seluruh jenjang. PAUD mengalami dampak pada 629 satuan pendidikan, SD 1.205, SMP 566, SMA 235, SMK 118, PKBM 19, dan SLB 26. Seluruh sekolah tersebut menghentikan aktivitas belajar normal akibat kerusakan fasilitas dan gangguan logistik.
Kemendikdasmen merespons cepat dan mengalokasikan dana tanggap darurat sebesar Rp20,47 miliar untuk memulihkan proses pembelajaran. Pemerintah mengirim Rp6,7 miliar sebagai bantuan awal untuk menjalankan pembelajaran darurat serta layanan psikososial bagi murid dan tenaga kependidikan.
Bantuan itu mencakup 74 tenda kelas darurat, 8.000 paket perlengkapan belajar, 55.000 buku teks dan nonteks, serta 4.500 paket logistik. Seluruh distribusi bertujuan mempertahankan keberlanjutan pembelajaran di wilayah bencana.
Kemendikdasmen menggalang gerakan gotong royong dan mengaktifkan Pos Pendidikan sebagai pusat koordinasi. Langkah tersebut menghubungkan pemerintah pusat, dinas pendidikan, sekolah, dan para relawan agar proses pemulihan pendidikan bergerak cepat dan tepat sasaran.
Program rehabilitasi sekolah terus berjalan untuk mengembalikan kegiatan belajar ke kondisi normal. Tim pendampingan psikososial juga mendatangi murid dan tenaga kependidikan untuk mengatasi trauma akibat bencana.
Selain itu, pemerintah memberikan tunjangan khusus kepada tenaga kependidikan terdampak dan menyalurkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) khusus kepada murid yang kehilangan fasilitas belajar dan tempat tinggal. Skema ini menjamin setiap peserta didik tetap mengikuti pendidikan tanpa hambatan ekonomi maupun logistik. (run)

